BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Saturday, October 3, 2009

fanfic : I Just Want U By My Side 6

Title : I Just Want U by My Side

Chapter : 6 of sekian~

Genre : Drama , Romantic

Rating : PG13+ [genre fav saia ~ :D]

Author : Judith Aiichi Joo-chan Melchiott

Cast :
Aiichi
Ichimoku Ren
Ai-chan
Hone
Madara
n many more ~
:D

Pairing : AiichiXRen, Ai-chanXMadara

==================

Aku menyipitkan mata menatap Kanna. Menurutku kali ini Kanna cukup keterlaluan. Memangnya dia siapa sih? Kok seenaknya menyuruhku menjauhi Ren?

Kata-kata itu hampir kusemburkan ke ujung hidungnya, tapi tidak jadi.

Aku terlalu pengecut.

"Orang culun kutu buku yang tidak cantik sama sekali dan tidak gaya tidak boleh mendekati cowok sekeren Ren!"

Kanna mendekatkan tubuhnya padaku. Tangannya mencengkeram kerah bajuku. Matanya menyipit sadis sarkastis.

"Ingat? Jangan dekat-dekat Ren!!"

Lalu ia menghempaskan tubuhku hingga punggungku membentur papan pengumuman dan pergi meninggalkanku bersama dengan pengawal-pengawalnya. Meninggalkan rasa sakit di dua tempat yang berbeda.

Punggungku dan hatiku.
==================

"Aiichi, kamu tidak mau sekolah?" Mami Hone meletakkan nampan berisi semangkuk bubur, segelas air putih, sendok, dan beberapa pil obat di atas meja di samping tempat tidurku.

Aku terdiam sambil menarik selimut lebih rapat ke tubuhku. Kepalaku menghadap ke tembok, sehingga posisiku memunggungi Mami Hone.

"Tidak usah..." gumamku pelan. Tenggorokanku terasa tersumbat plasma yang mendesak ke segala arah. Kepalaku nyut-nyutan. Hatiku serasa dicabik-cabik dengan kasar dan dihempaskan begitu saja.

Luka.

Jemari Mami Hone mengusap rambutku dengan lembut.

"Istirahatlah," katanya dengan suara keibuan. Tidak biasanya. Mami selalu berkata dengan cepat dan bernada galak tapi berkesan humor. Aku sangat menyayangi Mami.

"Selamat tidur." Mami Hone melangkah keluar pintu dan menutupnya.

Klek!

Aku mendesah dan menyelubungi kepalaku dengan selimut. Lebih baik aku tidur saja.

Rasanya kepalaku mau pecah karena terlalu banyak berpikir.
==================

Mimpi.

Dapatkah kau percaya itu?

Mimpi adalah sang bunga tidur.

Penghias alam bawah sadar kita sementara kita terlelap.

Yang kadang-kadang berada di luar nalar dan akal sehat kita...
==================

Ren menatapku dengan tatapannya yang menyejukkan. Tatapannya itu mampu membuatku merasa panas-dingin.

Di sekeliling kami terhampar padang rumput hijau yang luasnya tak terbatas. Di atas kami terbentang langit yang birunya merasuki jiwa kami.

"Aku mencintaimu, Aiichi." Ren menatapku. "Sekarang dan selamanya..."

Lalu kepala kami saling mendekat dan...
==================

Aku terbangun oleh suara-suara di lantai bawah. Sepertinya ada tamu yang datang. Terdengar suara Mami Hone yang sedang mengobrol dengan seseorang. Mereka menyebut-nyebut namaku. Detik berikutnya kudengar bunyi langkah kaki di tangga dan langkah-langkah tersebut mengarah ke kamarku. Hmmm, mungkin Ai-chan datang untuk menjengukku.

Terdengar bunyi ketukan di pintu.

"Masuk." Aku menjawab pelan, mengizinkan orang itu masuk ke kamarku.

Pintu terbuka sedikit.

"Permisi..." Sebuah suara yang kukenal beserta sang pemilik suara muncul di balik pintu dan membuatku kaget.

REN!!!

Ren, masih dengan seragam sekolah, berdiri di ambang pintu kamarku. Jantungku nyaris berhenti berdetak.

Aku terpaku, terduduk membatu di balik selimutku. Masih memakai piyama lagi. Memalukan. Pipiku pasti berwarna merah sekarang. Rasanya panas.

Ren melangkah mendekati tempatku.

"Hai," sapanya sambil tersenyum.

"H-hai..." Lidahku seolah-olah kaku. Sulit rasanya menjawab sapaan Ren. Aku grogi.
Tangan Ren terulur dan menyentuh pipiku, lalu menarik wajahku mendekat pada wajahnya.

"Tidak panas." Ren menyentuhkan keningnya ke keningku yang tertutup poni yang acak-acakan. Mata kami berada dekat sekali. Jantungku mulai berdebar tak keruan. Aku yakin pasti mukaku sudah semerah tomat rebus balado.

"Sebenarnya kau sakit apa, Aiichi?" tanya Ren sambil menjauhkan wajahnya dari wajahku. Warna kulitku belum normal.

"Aku... sakit hati." Kupalingkan wajahku dari wajah Ren.

"......." Kebisuan hinggap di antara kami. Aku terdiam dengan wajah memerah, tidak mau menatap Ren.

"Kenapa?" tanya Ren pada akhirnya.

Tanpa sadar jantungku berdegup semakin cepat. Apa harus kukatakan?

Ayo Aiichi, jangan selamanya jadi pengecut! Kesempatan bicara BERDUA saja dengan REN cuma datang sekali!

Otakku terus menjerit-jerit menyadarkanku. Aku mengumpulkan segenap keberanian dan menghembuskan nafas.

"Karena... Tetsushima Kanna menyuruhku untuk menjauhimu."

Kurasakan Ren menatapku. Pandangannya terasa menusuk sel-sel tubuhku, hingga ke balik DNA. Seperti tatapan yang waktu itu menusuk punggungku.

"Lalu, kenapa kau merasa sakit hati?" tanya Ren.

Aku menggigit bibir bawahku, ragu sekaligus menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalaku.

"Karena aku... menyukaimu..."

Horeee!! Aiichi, kamu berhasil mengatakan isi hatimu!!

Perasaan dan hatiku bersorak-sorak menyambut keberanianku.

Kutatap wajah Ren dengan gugup dan malu. Kegembiraanku berangsur-angsurberubah menjadi kecemasan. Tapi, sepertinya ekspresi Ren biasa-biasa saja. Malah cenderung ke arah... bahagia?

Sebelum aku sempat menganalisis lebih lanjut mengenai ekspresi Ren, Ren sudah menarikku ke dalam pelukannya.

"Aku juga... mencintaimu..." Ren berbisik di telingaku.

Apa ini mimpi?

Aku membenamkan wajahku ke bahu Ren.

Bukan, ini bukan mimpi...
==================

Pagi harinya aku bangun dengan keadaan jauh, jauuuuhh lebih baik. Perasaanku jadi lebih ringan.

"Siap ke sekolah dengan Ren ya?" goda Mami Hone yang sedang memasak.

Aku tersenyum.
==================>tbc

0 comments: