Title : I Just Want U by My Side
Chapter : 7 of sekian~
Genre : Drama , Romantic
Rating : PG13+ [genre fav saia ~ :D]
Author : Judith Aiichi Joo-chan Melchiott
Cast :
Aiichi
Ichimoku Ren
Ai-chan
Hone
Madara
n many more ~
:D
Pairing : AiichiXRen, Ai-chanXMadara
==================
Sesampainya di sekolah, dengan berseri-seri aku menghampiri Ai-chan yang sedang duduk di mejanya.
Beberapa buku cetak dan buku tulis terbuka lebar dan sebuah penghapus bersama pensil mekanik yang sedang dipegang Ai-chan menghiasi permukaan meja. Ai-chan memakai kacamata minus satunya. Wajahnya terlihat serius, tapi manis. Mungkin inilah yang membuat Uchiha Madara menyukainya.
Uchiha Madara adalah siswa dari sekolah khusus putra Y yang berada di prefektur Nara. Ren pernah bersekolah di sana sebelum pindah ke sekolah ini. Madara dan Ren dulu pernah sekelas. Menurut kabar yang kudengar dari mulut Ai-chan dan Ren, Madara adalah salah satu siswa jenius di Y. Selain itu, Madara juga pandai berdebat. Ia beberapa kali menjuarai lomba debat, mulai dari tingkat lokal sampai tingkat internasional. Sejelek-jeleknya, ia pasti mendapat juara tiga. Lidah Madara memang cepat menyeletuk. Hal ini kuketahui ketika melakukan conference call dengan Ai-chan dan Madara. Kebanyakan mereka yang berbicara dengan sesekali menyebut panggilan 'sayang', 'honey', 'cinta', 'hunny', 'bunny', 'sweety' dan teman-teman sebangsanya. Aku cuma jadi pendengar setia, kalau tidak mau disebut kambing congek.
Tiba-tiba Ai-chan mengangkat wajah dari buku-buku yang berserakan di atas mejanya. Wajah seriusnya tenggelam, berganti dengan wajah ceria dengan senyum mengembang.
"Ada apa, Aiichi? Kau tampak senang." Ai-chan melemparkan tatapan menyelidik.
Aku tersenyum malu-malu.
"Jangan-jangan kau..." Ai-chan memiringkan kepala dan mengangkat dagunya, lalu menempelkan jari telunjuknya di bibir. Matanya menatapku dengan seksama. Seperti polisi hendak menginterogasi tersangka.
"Kau jadian dengan Ren ya?" tebak Ai-chan tepat sasaran.
Wajahku serta merta memerah. Ai-chan langsung meloncat dan memelukku.
"Selamat ya!" katanya tulus. "Nanti istirahat kau harus menraktirku bento set yang tiga ribu yen itu!"
==================
Sepanjang pelajaran aku tidak bisa menyatukan kepingan konsentrasiku ke dalam topik pelajaran sejarah hari ini : zaman Shogun berjaya. Alih-alih mendengarkan Kuminosuke-sensei bercuap-cuap tentang Shogun, aku malah membiarkan kepalaku menoleh ke arah jendela dan mengizinkan mataku mengamati barisan awan yang menari-nari dilatarbelakangi angkasa yang berwarna biru pucat.
Aku merindukannya.
Kugeleng-gelengkan kepalaku, berusaha menyadarkan diri bahwa aku ini sedang di kelas. Istirahat masih selang tiga jam pelajaran lagi, tapi jiwaku sudah menguap dari ruang kelas ini. Menjemukan.
Ternyata hari ini aku sedang sial, atau mungkin hukuman karena aku tidak memperhatikan pelajaran. Ketika kupalingkan kembali wajahku ke depan kelas, yang kudapatkan adalah wajah kesal Sensei dan tatapan seluruh isi kelas yang tertuju padaku.
"Shirayama-san, apa yang menyita perhatianmu selama beberapa menit ini?" tegur Kuminosuke-sensei seraya melangkah ke arah mejaku. Tanpa kusadari, wajahku berubah pucat. Keringat mengalir deras di punggungku. Aku menegakkan punggungku, rasanya seperti disiram air es.
"A-awan itu... bagus..." Untaian kata itu mengalir begitu saja dari bibirku. Telingaku menangkap gelombang desisan dan bisik-bisik mencela dari arah belakang, tempat Kanna dan gerombolan dayang-dayangnya bertakhta. Kenapa aku begitu bodoh dan memberikan alasan yang selugu itu? Kenapa otakku tidak bisa memberikan alasan yang lebih canggih?
"Jadi..." Kuminosuke-sensei mendekatkan wajahnya ke arahku. Matanya menyipit tanda tak menyukai bahwa aku--si murid teladan--adalah orang yang tidak memperhatikan pelajarannya. "... awan itu lebih penting dari pelajaran Sejarah?"
Aku langsung gelagapan. "Bu-bukan itu maksudku, Sensei! Aku hanya..."
"... Melihatku di bawah." Tiba-tiba sosok Ren sudah muncul di ambang pintu kelasku. Seluruh mata di kelas--termasuk Sensei dan aku--langsung melemparkan tatapan kaget dan (tentu saja) kagum.
"Re... nn..." gumamku pelan sekali, dan lebih kepada diriku sendiri.
Sensei mengangkat alisnya. "Ichimoku? Ada keperluan apa kemari?"
Bibir Ren menyunggingkan senyum mautnya yang mampu melumerkan hati siapa saja yang melihatnya.
"Saya ingin menemui Shirayama Aiichi-san, pacar saya."
Mulut Kuminosuke-sensei menganga lebar. Begitu pula Kanna dan dayang-dayangnya. Saking lebarnya, aku sampai berasumsi bahwa bila ada tikus tanah, mereka pasti akan masuk ke dalam mulut orang-orang itu karena sebegitu lebarnya jadi mirip dengan rumah tikus tanah yang melayang.
Aku berdiri dari kursiku. Dan berjalan ke arah Ren.
"Permisi," kata Ren sebelum menutup pintu.
==================> to be continued
Sunday, November 15, 2009
fanfic : I Just Want U By My Side 7
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment